communiARTion

Nopember 3, 2008

Nggak Perlu Urus Bangsa Lain!

Diarsipkan di bawah: Life — spidercool @ 11:19 am

    Pemilu Amerika tanggal 4 Novenber besok udah banyak ‘nyedot’ perhatian bangsa kita Indonesia. Coba kita pikirin lagi, penting nggak sih???

Walaupun kadang saya juga tertarik sama topik pemilu AS, tapi seharusnya kita sadar bahwa siapaun yang terpilih sebagai presiden nanti, kayaknya nggak akan bawa perubahan buat bangsa kita tercinta ini. Jangan terlalu banyak berha4rap dari Amrik, mereka aja udah kebingungan sama berbagai ancaman yang ditujukan buat negara mereka. Ada Rusia, Cina, Iran, Venezuela, Korea Utara, dan masih banyak lagi bangsa di Timur Tengah. Mereka sebenarnya cuma sekelompok pengecut yang takut sama bangsa-bangsa lain yang berpotensi menghancurkan hegemoni mereka di dunia. Belom lagi masalah internal mereka seperti sentimen antar ras dan warna kulit, kebencian antar agama, tingkat kriminalitas yang tinggi dan kebobrokan moralitas yang mereka miliki. Masih pantaskah Amrik menyandang bangsa yang paling ‘hebat’ di dunia. Mereka bukan negara adikuasa lagi, mereka cuma sekelompok orang yang ketakutan terhadap setiap kelompok orang lain yang bisa jauh lebih baik dari mereka.

Nah, makanya kita sebagai bangsa yang ‘masih’ punya harga diri tinggi, sebenarnya nggak perlu lah sibuk2 mikirin pemilu di sana. Biar mereka belajar lebih lagi tentang demokrasi yang selama ini mereka gembar-gemborkan. Mereka harus belajar demokrasi yang sebenarnya.

Untuk bangsa kita, sebaiknya kita lebih fokus ngangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia. Sebelum memperbaiki semuanya, kita harus lebih dulu mencintai bangsa ini seperti kita cinta ke keluarga kita sendiri. Ingat, kita ini bangsa yang besar, yang mampu berdiri sendiri dan punya harga diri yang tinggi. Ini untuk bangsa kita Indonesia.

Merdeka.

-Untuk Indonesia-

Oktober 15, 2008

Batal janji tanpa konfirmasi

Diarsipkan di bawah: Damn — spidercool @ 11:31 pm

Damn!!
Kenapa ada orang-orang yang dengan mudah ngerubah rencana tanpa ada konfirmasi dulu. Padahal, beberapa hari sebelumnya sudah ada kepastian. Apalagi jika janji adalah sebuah kebiasaan atau rutinitas. Koordinasi dan komunikasi memang sangat penting, buktinya kalo sampai gak jelas gini, hasilnya……………..ANJING!!!!!

Berada di atas angin?

Diarsipkan di bawah: Life — spidercool @ 11:24 pm

Terkadang, dalam hidup ini kita sering merasa berkemampuan lebih dan sudah yakin menang sebelum bertanding. Merasa bahwa kita akan berada pada wilayah atas roda kehidupan. Yakin akan mendapat nilai terbaik sebelum nilai diumumkan. Bukan sombong, melainkan percaya bahwa yang kita kerjakan adalah usaha terbaik dan tentu saja akan menghasilkan yang terbaik pula. Mungkin ini istilah yang dinamakan “berada di atas angin”.
Namun, perkiraan tak selalu menjadi kenyataan. Ada saatnya roda berputar seketika dan merubah semua perkiraan yang kita pikirkan. Sekalipun perkiraan tersebut 99% dijamin benar-benar akan terjadi. Mungkin ini rahasia Tuhan sekaligus rencana-Nya. Keadaan bisa berbalik dan menempatkan kita dalam keadaan yang sebaliknya.
Di lain kesempatan, justru ketika kita tidak percaya diri, bahkan meyakini kita akan berada di titik terendah roda kehidupan, keajaiban itu muncul begitu saja dan mengejutkan dengan hasil terbaik. Apa istilah “berada di atas angin” dapat dibuktikan?
Inilah pelajaran kehidupan yang kita temui dalam keseharian. Menang-kalah, pintar-bodoh, kaya-miskin, atau hidup-mati hanyalah sebuah permainan kehidupan, tidak lebih dari video games yang dapat restart lagi ketika game over. Kini, tinggal kita yang memutuskan kemana harus melangkah, hidup kita tak selamanya berada pada puncak roda kehidupan. Hidup hanyalah sebuah rencana Tuhan, kita tinggal menjalaninya. Kekalahan bukanlah sebuah kematian dan kemenangan tidak selalu harus dicapai dengan ambisi berlebihan.

-Untuk Kehidupan-

September 30, 2008

Adil?

Diarsipkan di bawah: Life — spidercool @ 3:14 pm

Apa kalian suka dengan keadilan ?
Kalian ingin keadilan ?
Adil ?

Kalo jawabannya ya, brarti kita sama…

Hmmm….n kalo sama, sepertinya kita perlu sama-sama introspeksi diri lagi deh.
Kita suka dan pengen banget keadilan tercipta di dunia..ya kan?
Kita pengen perang berhenti, kemiskinan hilang, adanya saling menghormati antar penduduk dunia, kita pengen dunia ini lebih baik lagi dengan adanya keadilan. Buat sebagian dari kita, kayaknya mudah banget menciptakan keadilan. Kita sering sesumbar, keadilan itu hanya sebuah hal yang abstrak dan akan tercipta dengan sendirinya jika manusia memang benar-benar menginginkannya.
BETUL…tapi apakah semudah yang kita bayangkan?

Permasalahannya bukan bagaimana menciptakannya, tapi apa benar kita sebagai manusia menginginkannya ??

Ini adalah sebuah kewajaran sekaligus kelemahan kita sebagai manusia, kita punya banyak ide mewujudkan sebuah keadaan yang ideal menurut kita, namun kita justru tidak tahu apakah kita benar-benar menginginkan keadaan tersebut terwujud. Just say it to our heart…

Coba kita lihat dari hal yang sederhana…
Friends, khusus untuk orang-orang yang mampu, apa yang akan kita lakukan jika kita punya voucher atau tiket gratis berbelanja di pusat belanja terbesar di Indonesia? Apa juga yang akan kita lakukan jika kita ditawari menginap gratis di sebuah resort mewah di puncak? Atau, apa yang akan kita lakukan bila kita dapat kesempatan untuk kuliah/sekolah di luar negeri?…Senang sekali rasanya hidup penuh dengan kesempatan seperti itu. Pasti kita akan sangat bersyukur kepada Tuhan dan akan biasanya akan berkata “Gue gak akan nyia-nyiain kesempatan emas ini…”
Okay, ini adalah sebuah kesempatan emas seperti saat kita bermain ‘monopoli’. Ini adalah sesuatu yang mungkin terjadi seumur hidup dalam hidup kita, tapi apakah kita mengingat mereka yang tidak mampu untuk berbelanja, bahkan makan pun sulit, atau mereka yang putus sekolah karena tidak punya biaya lagi, atau mereka yang selalu tidur di bawah jembatan tanpa adanya kasur empuk.
Padahal bila kita mau melihat keadaan kita saat ini, makan berkecukupan, hidup dengan fasilitas yang lengkap, sekolah dan kuliah hingga tingkat tinggi, tidur pun sudah di atas kasur empuk, kita atau mungkin orang tua kita mampu membayar seluruh ‘gratisan’ yang kita dapatkan tadi. Melihat keadaan ini, apakah kita sudah adil terhadap diri kita sendiri?

Inikah yang dinamakan keadilan ?

Kritis ya…Namun, apakah kita mau mengorbankan segala nikmat itu bagi orang yang lebih membutuhkan sekarang juga?
mmmmm….sepertinya belum, yah mungkin minimal kita perlu berpikir sekian kali hingga akhirnya memutuskan untuk berkata “Mau.”
Sampai kapan kita bertahan dalam keadaan seperti ini? Katanya mau dan suka keadilan? Inikah keadilan yang kita maksud?
Mungkin sistem yang membentuk kita menjadi seperti ini, tapi perlu diingat, sistem tidak akan berjalan bila manusia tidak menghendakinya. Lalu, salah siapakah ini?

-Untuk Indonesia-

September 26, 2008

Jakarta, 25 September 2008

Diarsipkan di bawah: Lifecycle — spidercool @ 2:51 am

Sinar matahari jam 4 sore masih terasa hangat menyelimuti sebagian wajahku. Mataku masih tertutup kacamata hitam model Army Ray ban yang melindungiku dari sisa terik dan panas siang hari tadi. Tanganku berkeringat menggenggam setir mobil jip kesayanganku. Terkadang aku merasa mobilku serupa dengan sauna di pusat kebugaran, maklum pendingin Suzuki Sierra keluaran 1984 ini sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Sesekali kuseka peluh-peluh keringat di kening, pipi, bahkan di sekitar leherku. Sore ini sungguh panas sekali pikirku. Sudah panas, berisik pula. Kaca mobil yang kubuka sebagian telah membiarkan suara bising kendaraan berikut klaksonnya masuk mengganggu keheningan telingaku. Belum lagi macet di jalan Saharjo ini, yang membuat mobilku terjebak diantara belantara kendaraan bermotor. Keadaan ini membuat kedua kakiku pegal karena harus menahan pedal kopling, rem dan gas secara bergantian. Aku tak tahan untuk mengeluh muak dengan kota bernama Jakarta ini.
Keadaanku sudah benar-benar jauh dari batas nyaman pengendara mobil pada umumnya. Bahkan, aku mungkin sudah pada tingkat emosi jiwa akut. Aku tak henti-hentinya menggerutu mengucapkan berbagai kata-kata kasar, ”anjing, monyet, tai…”
Aku juga terus menggerak-gerakkan kaki kananku yang kuletakkan di samping pedal gas karena arus lalu lintas terhenti lama. Kulihat sekelilingku hanya pengendara mobil dan motor yang seakan berlomba sampai di rumah lebih dahulu, demi berbuka puasa bersama keluarga. Sekarang bulan puasa, sudah sebulan ini penduduk Jakarta pulang lebih awal. Jalanan penuh dengan kendaraan, lampu lalu lintas tak mampu mengatasi padatnya kendaraan, aku dan pengendara lain di sini sepertinya hanya dapat meratapi nasib sebagai penduduk Jakarta.
Tanpa sengaja, pandanganku terarah pada kaca spion samping. Tiba-tiba sebuah kejadian membuat udara yang sudah panas makin terasa panas bagiku. Sopir mobil Nissan X-Trail bernomor B 412 HM yang berada tepat di belakang mobilku, membuang sampah tissue begitu saja di tengah jalan. Mungkin bagi sebagian orang, hal itu biasa terjadi di Jakarta, namun tidak bagiku. Seketika, aku ingin turun dari mobil dan menegur orang yang telah membuang sampah sembarangan itu. Bayangkan, dalam keadaan lalu lintas terhenti, tanpa rasa bersalah sedikitpun seseorang tidak ragu-ragu membuang sampah seenak hatinya. Mungkin, dia merasa jalan ini dibuat oleh nenek moyangnya. Mengapa sopir tersebut tak merasa malu sama sekali ?. Pikiranku, jangan-jangan pemilik kendaraan itu tak mau mobilnya kotor, hingga rela membuang sampah dimana saja, asalkan tidak di mobilnya. Perasaanku pilu melihat kejadian itu. Masyarakat seakan sudah tak punya perasaan pada lingkungannya sendiri.

Inikah sebuah gambaran tentang gaya hidup masyarakat Jakarta sebenarnya ?

Mungkinkah penduduk Jakarta sudah sedemikian sibuknya, hingga tak mempedulikan lagi kebersihan lingkungannya ?

Hanya diri kita masing-masing yang mampu menjawabnya dan menanggungnya di hadapan-Nya.

September 24, 2008

HARAPANKU

Diarsipkan di bawah: My path — spidercool @ 11:01 am

Aku ingin melayang di awan
Nikmati indahnya langit dari kedekatan
seakan semuanya bebas dan jauh dari keramaian
keheningan dalam sebuah kedamaian

Aku sudah muak dengan segala kekeliruan ini
Hidup terasa berat dan tak semangat
Namun kuterpaksa jalani ini semua
walaupun aku ingin terus ada

Tuhan tahu yang terbaik bagi umatNya
Namun, bagaimana bila…
umatNya tidak tahu…
yang terbaik bagi dirinya

HARAPANKU

Menuju Jakarta Bebas Macet (2)

Diarsipkan di bawah: Lifecycle — spidercool @ 10:56 am

Sebagian besar masyarakat masih belum sadar akan pentingnya pengurangan kemacetan ini. Mereka masih berpikir bahwa penggunaan kendaraan pribadi merupakan hak pribadi mereka. Mereka memang benar, namun, mereka belum memikirkan dampak yang timbul pada masyarakat, karena lalu lintas adalah milik bersama. Para pengusaha angkutan umum, mungkin selama ini hanya memikirkan keuntungan yang akan mereka peroleh saja, tanpa berpikir bahwa banyak angkutan mereka yang berhenti seenaknya di tengah jalan, atau salip-menyalip yang mengganggu pengendara lain. Para pedagang kaki lima yang juga hanya memikirkan keuntungan semata, tanpa sadar bahwa keberadaan mereka menimbulkan keruwetan pada tata lalu lintas yang sudah ditetapkan. Pemerintah yang mungkin berpikir terus untuk membangun sarana transportasi kota tanpa memikirkan jumlah armada yang dibutuhkan, sehingga seringkali jumlah armada seperti bus Transjakarta berbanding terbalik dengan jumlah warga yang membutuhkan sarana tersebut. Belum lagi masalah kriminal yang membuat orang menjadi enggan untuk melakukan perjalanan dengan sarana transportasi yang ada. Masih banyak permasalahan lainnya yang timbul akibat ketidak sadaran banyak pihak, ini merupakan masalah multidimensi yang butuh pematangan lama untuk menyelesaikannya. Masalah ini bukan masalah perseorangan, namun merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai penduduk Jakarta. Jangankan gubernur sendiri, Presiden sekalipun tidak akan sanggup menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta bila hanya bergerak sendirian.
Kita perlu bergerak lebih dinamis lagi. Kita perlu adanya perencanaan matang dan konsep yang jelas untuk mengatasi masalah kemacetan di Jakarta. Masyarakat memerlukan adanya sebuah pergerakan baru untuk melingkupi berbagai upaya yang sudah berjalan agar lebih berguna lagi, lebih efektif dan efisien serta lebih maksimal dalam penerapannya. Kita perlu mengkampanyekan Jakarta bebas macet melalui sebuah gerakan. Upaya strategis yang perlu dilakukan adalah mengajak seluruh penduduk Jakarta untuk semakin menyadari bahwa kemacetan bukanlah tanggung jawab pemerintah saja, bukanlah tanggung jawab perseorangan, melainkan tanggung jawab bersama dan perlu langkah berkesinambungan di dalamnya. Kita perlu bekerjasama dengan banyak pihak terkait yang mempunyai otoritas dalam mengendalikan beberapa faktor yang berpengaruh pada arus lalu lintas. Pertama, kita perlu bekerjasama dengan pihak Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Lalu Lintas dan Angutan Jalan Raya (DLLAJR). Hal ini dikarenakan polisi dan DLLAJR merupakan aparatur utama penegakan hukum lalu lintas yang ada. Kerjasama ini ditujukan untuk semakin mengefektifkan lagi kinerja kepolisian dan DLLAJR dalam menegakkan hukum lalu lintas yang berlaku seperti misalnya : program 3 in 1, kemudian penertiban lampu lalu lintas, program motor berjalan di sebelah kiri, program jalur cepat-jalur lambat, mengupayakan keamanan bagi para pejalan kaki atau pengguna angkutan umum dan program-program lainnya. Kemudian, dengan pemerintah kota untuk semakin memperbanyak lagi upaya pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, seperti misalnya : menaikkan pajak kendaraan pribadi, menambah Hari Bebas Kendaraan Bermotor, menambah armada Transjakarta sebagai alternatif angkutan jalan raya, mempercepat realisasi penbangunan MRT dan Monorel, memperbaiki dan mengorganisasikan lagi sarana kereta listrik yang sudah ada, menertibkan (bukan mengusir) pedagang kaki lima, ikut mendukung realisasi dari konsep Megapolitan dan beberapa upaya lainnya. Ketiga, bersama Induk organisasi perusahaan Angkutan Kota, Kopaja, Metro Mini, Mayasari bakti dan beberapa perusahaan lainnya, mengupayakan peningkatan ketertiban dan kedisiplinan sopir di dalam berkendara, misalnya : membentuk lembaga pengaduan masyarakat dan mengefektifkannya sebagai saluran pengaduan bila ada masyaarakat yang terganggu dengan sopir yang seringkali berlaku seenaknya sendiri di jalan raya, penerapan sanksi bagi sopir yang melanggar dan terbukti tidak disiplin dan juga peremajaan kendaraan guna meningkatkan kenyamanan penduduk saat menggunakan angkutan. Berikutnya, bekerjasama dengan beberapa organisasi atau komunitas yang juga turut mendukung pengurangan kemacetan, misalnya ikut memperjuangkan terwujudnya jalur sepeda bersama komunitas Bike to Work. Kita juga dapat terus mengkampanyekan perlunya kesadaran pribadi untuk mengurangi kemacetan kepada seluruh lapisan masyarakat, kampanye ini tidak hanya menyadarkan dari pikiran saja, namun juga harus menyentuh nurani masyarakat tentang perlunya usaha bersama untuk mengurangi kemacetan lalu lintas Jakarta. Masih banyak lagi yang sebenarnya dapat kita lakukan, yang pasti, kita bergerak dengan berbagai komponen masyarakat. Semua ini saling berkait, masalah yang kompleks tentu saja juga harus kita selesaikan dengan cara-cara strategis yang punya kompleksitas tinggi pula.
Banyak keuntungan yang akan kita peroleh bila kemacetan berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Sudah tentu, arus lalu lintas akan selalu lancar, masyarakat dapat melakukan aktifitas dengan tepat waktu, jalan-jalan akan terasa nyaman dan tingkat sosial masyarakat pun meningkat, tidak ada ketakutan akan kejahatan di jalan lagi, penggunaan angkutan umum pun akan terasa menyenangkan, tingkat ekonomi akan meningkat, BBM lebih hemat serta lingkungan pun bersih dan sehat.
Dari banyak paparan di atas, kita seharusnya menyadari betapa pentingnya tindakan untuk mengurangi kemacetan di Ibukota negara Indonesia. Banyak manfaat yang akan kita peroleh bila kita sadar akan hal ini. Bila kita belum mampu untuk melakukan kerjasama dengan pemerintah secara langsung, paling tidak kita mau memulainya dari hal yang kecil dan mudah seperti mematuhi peraturan lalu lintas. Kita mungkin belum mampu untuk mewujudkan mimpi besar menghilangkan kemacetan di Jakarta, namun sekecil apapun, paling tidak ada tindakan nyata untuk meningkatkan kualitas hidup penduduk Jakarta dengan…

GERAKAN ANTI MACET

Menuju Jakarta Bebas Macet (1)

Diarsipkan di bawah: Lifecycle — spidercool @ 10:52 am

Jakarta sebagai ibukota Indonesia, sudah tentu memiliki tingkat keberagaman aktifitas yang tinggi pada tiap penduduknya. Keadaan masyarakat yang plural dan kompleks telah membuat Jakarta terasa semakin padat dari tahun ke tahun. Dari data bulan Januari 2008 yang dimiliki oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta, penduduk kota ini telah mencapai 8.489.910 orang. Sebagai perbandingan, data 2007 menunjukkan penduduk Jakarta masih 7.871.215 orang. Ini berarti, ada peningkatan selama 1 tahun sebesar 618.795 orang, belum termasuk penduduk yang tinggal di luar Jakarta namun bekerja di Jakarta pada pagi hingga malam hari.
Mengacu pada data di atas, harusnya sudah dapat kita bayangkan betapa padatnya kota Jakarta dalam lingkup penduduk yang multi dimensi. Kepadatan ini tentu saja juga berpengaruh pada tingkat kemacetan lalu lintas ibukota. Arus kendaraan merupakan faktor penting sebagai salah satu pendukung aktifitas penduduk sehari-hari. Seperti rumitnya keadaan penduduk di Jakarta, kemacetan pun memiliki kompleksitas yang tidak mudah diatasi. Ketika kita sudah bicara kemacetan, kepentingan dari 8.489.910 penduduk Jakarta bersama sekian juta penduduk luar Jakarta pun tercermin di dalamnya. Mengurus 1 orang saja tidak mudah, apalagi jutaan orang yang berbeda satu dengan yang lain. Setiap hari, 7 juta orang di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi melakukan pergerakan pada pagi dan sore hari selama 2 jam (07.00-09.00 dan 17.00-19.00). Dari 7 juta orang ini, 56% memilih menggunakan angkutan umum dan 44% lainnya menggunakan kendaraan pribadi. Dapat kita bayangkan bagaimana padatnya arus lalu lintas pada saat itu, ditambah lagi berbagai aktifitas lain yang ikut mempengaruhi arus lalu lintas seperti pedagang kaki lima, kecelakaan kendaraan, orang menyebrang, atau bahkan sejumlah pelanggaran lalu lintas yang muncul akibat ketidak disiplinan penduduk. Dari berbagai sudut pandang ini, kita dapat melihat betapa parahnya kemacetan yang terjadi di Jakarta. Bahkan pemerintah memperkirakan, bila kondisi ini tidak dikelola dengan baik, maka pada tahun 2014 arus lalu lintas di Jakarta akan sangat padat dan kendaraan sama sekali tidak dapat bergerak.
Sebenarnya, banyak sekali kerugian yang akan didapat bila kita masih membiarkan kemacetan terus merajalela di ibukota ini. Pertama, kondisi kota akan semakin tidak nyaman dengan kemacetan yang terjadi di mana-mana. Kemudian, penduduk akan semakin memboroskan Bahan Bakar Minyak (BBM), padahal masalah BBM saat ini sudah cukup membebani pemerintah dan penduduk. Ketiga, masalah loss akibat macet di Jabodetabek sebesar Rp5,8 triliun per tahun (Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek ’SITRAMP’2004) dan hingga saat tahun 2008 ini terus bertambah 10% sampai 15% karena kendaraan yang semakin bertambah. Belum lagi, dampak polusi yang akan timbul karena karbon monoksida(CO) dari asap kendaraan bermotor. Masih banyak lagi beberapa kerugian lainnya, namun bukan tujuan kita untuk mengungkit-ungkit berbagai kerugian yang ada. Namun, kita harus lebih fokus lagi untuk memperbaiki keadaan yang begitu rumit ini.
Sudah banyak upaya untuk memperbaiki keadaan ini. Baik pemerintah maupun berbagai kalangan masyarakat sudah banyak yang memikirkan cara-cara untuk mengurangi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya. Program ’3 in 1’ yang sudah dicanangkan sejak lama, proyek Busway, Mass Rapid Transit (MRT), ataupun Monorel yang mulai dibangun, walaupun terasa lambat perkembangannya, juga berbagai kampanye untuk pengurangan pemakaian kendaraan bermotor (Bike to Work, Hari Bebas Kendaraan Bermotor). Masyarakat sadar akan hal ini, upaya sudah dilakukan, namun, semuanya belum maksimal, bahkan terkesan tidak serius, lambat, tidak efektif dan kurang strategis menyentuh nurani para pengguna arus lalu lintas kota Jakarta. Beberapa hanya terdengar saja, belum ada tindakan nyata, hanya wacana dan belum terlihat maksimal.

Agustus 6, 2008

Dalam Sebuah Kenangan

Diarsipkan di bawah: My song — spidercool @ 7:46 am

Tiada lagi satu tawa
saat ku menderita
Hilang sirna sebuah tangis
kala kubahagia

Tiada kata, tiada mimpi
bagian hidup ini
Kini kuhanya bertahan
di dalam ratapan…

* Kau telah pergi,
bawa semua kenangan di hati
Untuk selamanya
dan takkan pernah kembali

Reff : Bagai tiupan angin
tanpa arah entah kemana
Ku harus menjalani hidupku
Satu yang pasti dariku
bahwaku sayangimu
Terucapkan dalam sebuah kenangan

Tak Perlu Kau Menangis

Diarsipkan di bawah: My song — spidercool @ 7:44 am

Mengapa harus menangis
untuk sebuah kata cinta
Tak cukup bila dengan tangisan
untuk ungkapkan semua
rasa cinta yang bergetar di dada

Sudah janganlah bersedih
Simpan semua air mata
Percuma dan tiada berguna
bila kau terus mengingatnya
Kau hanya sakiti diri sendiri

* Cinta ….tak selamanya memiliki
….tak seharusnya kau tangisi
….masih ada kehidupan yang harus kau hadapi
….sia – sia semua air mata
….kau harus terus mencoba
….lupakan semua bila tak ingin kembali

Reff : Cobalah untuk tersenyum
Tinggal semua bebanmu
Lepas sesak padaku
Ku akan terus berada di sampingmu

Katakan semua padaku
Ku kan menghiburmu
Sudahlah sahabatku
Kini lupakan masa lalumu

Powered by WordPress Theme pack from WPMUDEV by Incsub.